BADMINTON WONDER FANS (BWF)

A page for all badminton wonder fans around the world

My Little Story [Part 2] : Misteri Pecinta Badminton [Kisah Berangkai]

Aku tiba di rumah dengan selamat. Kupandang rumah yang sudah dua tahun berdiri, pekarangannya bersih. Segala macam pohon dan bunga menghiasi. Ada semacam semboyan yang kuhapal, “Sebagus-bagusnya rumah, hotel dan tempat kalau tidak ada bunga dan penghijauan itu hanyalah bangunan.” Itu adalah ucapan seorang tua di depanku, ia membuka pintu dengan suara parau, “Walaikumsalam. Sebentar.”

Umi langsung kucium, kening dan pipinya. Dia hanya diam dan berlalu sambil duduk menahan sakit, “Umi masih batuk, hukk hukk!!” responnya. Beberapa detik sempat kulihat wajahnya. Ia sudah tidak muda lagi. Ia kesepian.

Ponselku berdering, sebuah pesan masuk, “Sedang apa?”

“Lagi di beranda sama Umi berdua, romatis deh.”

“Salamin gua buat umi elu”

“Salamin? Hahah, jadi ingat makian elu buat umi gua. Mau muntah gua ingatnya.”

“Stres. Kan gua bilang bercanda.”

“Oh, bercanda. Lanjutkan Bos!”

Kulanjutkan lagi pembicaraanku pada Umi. Aku tersenyum melihat wajahnya. Seorang yang telah mengirimiku pesan tadi telah sanggup menghinanya dengan kalimat keji. Umi tidak salah apa-apa antara pertengkaran aku dengan tupai malang yang basah kuyup di pucuk pohon gersang itu.

“Cepat kau pulang Bang. Ayah mau pergi kerja lagi ke luar daerah.” lanjut Umi menahan batuknya.

“Iya, abang juga sudah ingin cepat selesai.”

Kuselesaikan percakapanku dengan Umi. Singkat memang, selain membicarakan hal lain. Umi segera ke kamar untuk istirahat. Ayah juga pesan agar aku cepat selesai. Aku menjelaskan bahwa akan butuh setidaknya seminggu lagi. Aku praktik kerja sebagai calon guru di sebuah sekolah negeri di kota Binjai, kota di barat laut kota Medan. Sudah hampir empat purnama aku di sana. Ini adalah hari-hari puncak.

Kutulis sebuah status di akun facebook-ku:
“Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Status ini untukmu, kawan.”

Sempat beberapa teman dari dua ribu temanku menyukai statusku itu. Tapi bukan dia, akun si tupai tidak ada dalam daftar penyuka statusku. Tapi semoga ia membacanya.

“Pasti dia membacanya.” telepatiku bicara.

Tupai dan aku bersahabat mulai November 2010. Aku percaya adanya sahabat darinya walau masih belajar percaya. Saat laga final ajang bola SUZUKI CUP, aku menulis status yang kontras dengan status-status teman di berandaku. Mereka berdoa agar Gonzales dan kawan-kawan menang. Tapi aku tidak, aku menulis agar Indonesia kalah untuk seru-seruan saja. Tujuan lain adalah agar statusku ramai dikomentari teman. Meski tidak jarang mereka menghina dan malah mencaci maki aku. Kata sandi yang keluar adalah NASIONALISME dilampiri kata-kata kejam menusuk kalbu. Tapi aku malah semakin antusias.

Beberapa di antaranya ada yang seperjuangan denganku, mengharapkan agar Timnas kalah karena pemberitaan dan persiapan berita sungguh berlebihan. Satu di antaranya adalah Tupai Malang Yang Basah Kuyup Di Atas Pohon Gersang, untuk selanjutnya disingkat TuMaYaBaKuDiaPoGer. Tupai malah menyokong statusku. Ternyata dia tidak terlalu suka sepakbola sebab hati banyak terluka dengan hasil persepakbolaan Indonesia baik dalam kecamatan, kelurahan, kabupaten, provinsi, dalam dan luar negeri, dunia dan akhirat. Indonesia jauh dari sepakbola katanya.

Dari nama akunku, dia bertanya: “Elu suka bulutangkis juga yah?”

“Iya, suka banget. Bola juga suka kalau mainnya membawa bendera negara.”

“Ia, pemerintah kayanya buta. Sepakbola yang tidak ada prestasi apa-apa dikucuri dana miliaran. Bulutangkis malah dianaktirikan.”

“Ia, setuju. Yaudah kalau gua mau tanya bulutangkis dan diskusi bulutangkis hubungi nomor HP ini yah.”

Akhirnya Indonesia kalah lawan Malaysia. Laser, gas elpiji, petasan, kiper, main uang, pemain, rumput, tiang, tanggal main dijadikan pendukung Indonesia sebagai biang keladi kekalahan, setidaknya di beranda teman-temanku.

Ada SMS datang ke ponselku. Dari si Tupai, ternyata dia 4 tahun lebih muda dari aku. Sejak itu kami semakin dekat dan dimulailah kisah ini.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: